Di balik nyanyian dan kelembutan

Februari 22, 2008 oleh cbodho

Warih (25) awalnya tinggal di sebuah dusun di puncak sebuah bukit yang amat sejuk dan hijau di Jawa Timur. Dusunnya yang miskin namun tentram selalu mengayomi hidupnya yang sederhana. Setiap hari Warih hanya duduk-duduk, bernyanyi dan bermain gitar.

Warih adalah anak tunggal. Mboknya amat mencintai dan memanjakannya. Walau mereka amat miskin namun Mboknya selalu mampu menghidangkan nasi hangat dengan sayuran sedap khusus bagi Warih. Tubuh Warih terlihat gemuk, kulitnya halus dan wajahnya lembut berseri seperti bayi. Ia semakin tampak berseri saat ia bermain gitar di ibadah Minggu di gerejanya.

Tahun 2001 Warih ingin ke Jakarta. Ia ingin punya henpon seperti kawan-kawannya yang merantau ke Jakarta. Warih meninggalkan dusunnya diiringi air mata si Mbok. Ia merantau ke Jakarta bersama sepupunya dan menjadi office boy di kantor saya. Kebiasaannya untuk selalu duduk-duduk, bernyanyi dan bermain gitar tetap melekat. Akibatnya banyak pekerjaannya terlantar. Sepupunya yang diam-diam membereskan semua pekerjaannya. Teman-teman kerjanya jengkel mengomel: “Mungkin ada lem di kursinya”. Namun ia bisa berubah amat gesit bila sekretaris kantor yang ditaksirnya minta tolong diantar pulang. Sepertinya mengantar sang sekretaris adalah aktifitas paling penting dalam hidupnya.

Selain bernyanyi dan bermain gitar, Warih suka mendengar orang berdiskusi. Ia perlahan mulai paham tentang hak asasi manusia. Topik diskusi rutinnya adalah strategi penghapusan diskriminasi rasial. Biasanya ia hanya menjadi pendengar. Ia tidak banyak bicara, lebih banyak senyum-senyum dan duduk-duduk.

Suatu siang Warih bersama seorang kawannya naik motor. Di perjalanan di daerahTebet sebuah mobil menyerempet motor mereka. Mereka berdua jatuh terpental dari motor. Pengendara mobil turun, ternyata seorang lelaki Tionghoa. Lelaki itu tergopoh-gopoh dengan wajah pucat meminta maaf.

Warih yang biasanya senyum-senyum, lembut dan tidak banyak bicara saat itu tiba-tiba berubah. Warih menjadi segarang macan terluka. Dengan kasar ia menuding-nuding dan membentak-bentak pengendara mobil itu. Kawannya mencoba menenangkan, mengingatkan bahwa kejadian itu kecelakaan, tidak disengaja dan mereka sama sekali tidak terluka. Motor pun tidak rusak. Sambil bersungut-sungut akhirnya Warih melepaskan si pengendara mobil itu pergi. Tapi kemarahannya pada kawannya belum reda sampai beberapa hari. “Kita hampir jadi kaya dari Cino itu, kenapa kamu menghalangi?” begitu ucapnya gusar berulangkali.

Warih sekarang bekerja di Sleman, menjadi penjaga sebuah rumah kosong sitaan bank. Setiap hari ia tetap duduk-duduk bernyanyi dan bermain gitar. Penampilannya masih selembut dulu. Entah apakah kelembutan itu tetap ada bila “ada kesempatan menjadi kaya”.***

Mereka Bersama Kita

Februari 21, 2008 oleh cbodho

Saya punya teman, sebut saja namanya Udin. Usianya mungkin sekitar 30 tahun sekarang. Udin berasal dari sebuah dusun di pelosok Kutoarjo. Namun sejak kecil ia sudah hidup di Jakarta, di sebuah rumah petak di pemukiman penduduk miskin di Jakarta Timur. Saya mengenalnya dan mulai berkawan dengannya sekitar 8 tahun yang lalu. Kala itu ia masih amat berduka karena selalu terkenang adiknya. Adiknya yang cacat mental mati dibakar di sebuah pusat pertokoan pada saat kerusuhan 13-15 Mei 1998. “Kami selalu dicap keluarga maling, keluarga penjarah” katanya meradang. “Kalau ada orang yang berani ngomong begitu di depan saya, saya langsung hajar biar mampus”, lanjutnya emosi. Udin memang kerap memukul orang. Di RSCM tanpa ampun ia sempat memukuli orang dengan kursi lipat. Orang itu mengatai-ngatai para korban kerusuhan Mei adalah penjarah.

Sehari-hari Udin amat ramah, mudah berkawan. Ia selalu mengumbar senyum dan bersikap positif. Ia juga amat rajin berdoa. Mungkin karena itu juga banyak sekali perempuan yang bersedia menjadi kekasihya, juga teman tidurnya. Menurutnya pacaran harus diperkaya dengan hubungan badan. “Pokoknya yang pertama ada ‘isinya’ perempuan itu yang akan saya kawini”, begitu ujarnya sewaktu saya mempertanyakan pertanggungjawabannya pada para perempuan kekasihnya itu.

Udin pekerjaannya tidak menentu. Sebelum kenal saya ia adalah preman yang suka memeras para pedagang kecil. Para pedagang di wilayahnya setiap malam setor Rp 500 – Rp 2000 sebagai uang keamanan. Uang itu ia bagi dengan teman-temannya. Kemudian ia jadi sopir, office boy dan terakhir bekerja di bagian pemasaran sebuah produk. Pekerjaannya tidak pernah langgeng. Ia selalu tergoda mencuri atau korupsi.

Kami kerap diskusi tentang masalah SARA. Pada akhirnya ia paham bahwa bersikap diskriminatif karena berbeda ras atau etnis adalah keliru. TUHAN memang mencipta manusia begitu kaya perbedaan. Tapi pemahaman itu tidak mampu menghilangkan rasa sakitnya setiap kali melihat seorang Tionghoa yang tampak kaya dan gemuk. Udin pun alergi melihat barongsai. “Cina bisa enak-enakan pesta-pesta barongsai lha itu kan karena peristiwa Mei! Adik saya jadi korban! mati kagak ada yang ngurusin”, ujarnya sengit saat melihat atraksi barongsai dan banyak etnis Tionghoa bergembira.

Secara umum Udin tidak menyukai etnis Tionghoa yang tampak gemuk dan kaya. Menurutnya ada rasa sakit yang tiba-tiba muncul di hatinya kalau melihat mereka. “Mungkin karena mereka kaya dan gak peduli orang miskin”, ujarnya. Tiga momen yang selalu membuatnya seperti terbakar amarah adalah jika melihat: sekelompok orang etnis Tionghoa makan besar di restoran; baby sitter keluarga Tionghoa di beri makan sisa-sisa makanan tuannya di meja restoran; lelaki Tionghoa yang memakai perhiasan emas mahal dan naik mobil mewah.

Di sisi lain kerap kali ia jatuh hati pada perempuan Tionghoa yang menurutnya sungguh mempesona karena “berkulit terang”. Namun perempuan-perempuan berkulit terang ini tidak ada satu pun yang mau menjadi kekasihnya. “Mereka mah payah!… maunya sama yang sama-sama Cina”, katanya jengkel.

Saya jadi ingat seorang kakak kelas saya di kampus yang amat tidak menyukai orang Minang. “Orang-orang Padang sialan itu tempatnya di sini”, ujarnya ganas sambil menunjuk ke telapak kakinya. Padahal ia amat rajin berdoa dan menaikkan lagu pujian kepada Tuhan Yesus dengan suara lantang.

Belum lama ini tanpa sengaja saya mendengar percakapan seorang lelaki separuh baya dengan isterinya. Bapak itu begitu gembira karena baru mendapat pekerjaan untuk membangun sistem kepegawaian di sebuah bank besar tempat isterinya bekerja. “…honey, tahu gak, Bosku pesan untuk diam-diam membersihkan orang-orang Batak dari situ, biar yang Jawa-Jawa saja di situ” ujarnya berseri-seri. Ia sendiri seorang etnis Jawa, begitu juga isterinya.

Entah benar atau tidak yang ia ucapkan. Namun sumringahnya bapak itu membuat saya prihatin. Setahu saya bapak itu sempat amat akrab dengan Alkitab. Bahkan sebagian besar waktunya bertahun-tahun dihabiskannya untuk hidup amat disiplin dalam belajar kaidah Kristiani.

Kawan-kawan, mohon doa untuk Udin. Ada banyak sekali orang yang pahit hati dan butuh pertolongan TUHAN kita seperti Udin. Doakan juga agar rasialisme bisa lenyap dari bangsa kita.***

SERUMAH DENGAN WEWE GOMBEL

Februari 6, 2008 oleh cbodho

Pak Saeni, asal Dusun Grenggeng adalah pencari daun pandan. Ia menikahi Rajem dan dikaruniai 13 anak. Untuk membiayai keluarga, Pak Saeni bekerja sebagai pencari daun pandan yang adalah bahan dasar tikar. Ia harus mencari sebanyak mungkin, menghilangkan duri-duri daun pandan, merebus dan mengeringkannya. Setiap kilo pandan kering olahan bisa dijual dengan harga sekitar Rp 5000. Dengan bantuan anak-anaknya setiap hari ia bisa mengumpulkan sekitar 2-3 kilo daun pandan. Jadi penghasilannya sekeluarga sekitar Rp 450.000 setiap bulan. Namun ia tidak pasrah pada kehidupan, semua anak-anaknya ditargetkannya lulus SMP. Karenanya ia luar biasa berhemat.

Untuk tempat tinggal, ia sengaja memilih lokasi yang dianggap angker karena konon dihuni oleh kuntilanak dan wewe gombel. Karenanya, harganya luar biasa murah. “Ndak ada orang yang mau beli, kecuali saya”, demikian ungkapnya. Gubuknya dibangun dengan sisa genting dan batu dari kuburan. “Saya bicara ke kuntilanak dan wewe gombel penunggu tempat ini agar kami bisa hidup bersama dengan rukun dalam satu rumah, tidak saling mengganggu”. Menurutnya semua agama sama baiknya. Yang penting saling menghargai dan tidak merasa diri paling benar.

Pak Saeni dan Bu Rajem rajin berpuasa dan berdoa. Mereka punya kemampuan yang tidak biasa, mengetahui hal-hal yang akan terjadi di masa depan, dan kemampuan untuk menilai apakah seseorang beritikad buruk pada mereka atau tidak. Dalam jarak 1000 meter Pak Saeni sudah bisa mendengar langkah kaki seseorang — jika orang itu beritikad buruk padanya. Kelemahan Pak Saeni hanya satu: bawang putih. Jadi kalau ia makan bawang putih maka ia akan menjadi amat lemah dan sakit fisiknya.

Putri Pak Saeni, Ngatiyem ikut tinggal bersama kami untuk mencari kesempatan studi lanjutan ke SMU. Beberapa bulan yang lalu saya dapat tugas pelayanan ke Salatiga di GKI Salib Putih. Saya mengajak Ngatiyem menemani saya. Dalam perjalanan pulang ke Jakarta, kami melewati kota tempat tinggal Pak Saeni dan Bu Rajem. Spontan kami memutuskan mampir sejenak ke rumah mereka. Ternyata mereka sudah tahu sejak 3 hari sebelumnya bahwa kami akan datang ke rumah mereka!

Sekarang keadaannya sudah ‘lumayan’. Sembilan anaknya sudah lulus SMP dan merantau ke Jakarta. Mereka semua bekerja sebagai buruh, office boy, sopir atau pembantu rumah tangga. Sekarang Pak Saeni dan keluarga sudah bisa makan 3 kali sehari rutin. Biasanya mereka makan oyek, ketela rebus dan kadang nasi. Lauknya sayuran yang tumbuh di halaman rumahnya.

Kawan-kawan, sempatkan waktu untuk mendoakan Pak Saeni dan keluarga agar mereka mengalami kasih Tuhan dan memiliki masa depan yang lebih baik.

Mbah Durin

Februari 6, 2008 oleh cbodho

Mbah Durin (sekitar 70), seorang petani yang lahir, besar dan sepanjang umurnya tinggal di Blitar Selatan di dusun Kedunganti. Ia seorang muslim namun amat terpengaruh agama Hindu dan tradisi Mataram. Rumahnya sederhana, berdinding bambu (gedek) tanpa cat. Seperti kebanyakan orang di dusunnya, alas rumahnya tetap tanah. Kamar mandi tanpa dinding, hanya ditutupi semak rimbun semacam tanaman cincau. Rumahnya sunyi, tidak ada televisi atau radio. Ia hidup sendiri selama bertahun-tahun.

Sejak muda ia adalah petani. Menanam apa saja dengan modal terbatas. Asal bisa menyambung hidup. Kadang menanam jagung, kadang singkong. Semua hasil tanamannya disimpan dan bertahap dimasaknya di tungku tanah liat di rumahnya.
Masa mudanya seperti hancur karena peristiwa Operasi Trisula 1968. Operasi Trisula adalah operasi penangkapan dan pembunuhan orang-orang yang dianggap PKI, komunis atau tidak mendukung pemerintahan. Mbah Durin ditangkap dan dipaksa menjadi algojo. Jika ia menolak maka aparat akan membunuhnya dan menuduh bahwa ia adalah PKI. Selama berminggu-minggu ia harus membunuh banyak orang di sebuah sumur alam di hutan bukit kapur. Sebagian adalah teman-temannya sendiri.

Berpuluh tahun ia menanggung rasa bersalah atas masa lalunya. Ia sudah tidak ingat berapa orang yang ia bunuh. Awalnya ia menyebut bahwa hanya satu orang yang dibunuhnya, karena terpaksa. Namun akhirnya ia mengaku ‘jumlah yang amat banyak, tidak bisa diingat lagi, puluhan orang’.

Beban batinnya membuat ia memilih hidup tertutup dan sendiri di dusunnya. Jika kita bertemu dengannya, selain kemiskinan fisik kita akan berhadapan dengan tokoh yang hatinya seperti membeku. Sorot matanya yang amat dingin seperti menjadi perlambang dinginnya kehidupan yang tanpa sentuhan kehangatan kasih Allah dan manusia.

Kawan-kawan, mohon berdoa untuk Mbah Durin dan orang-orang yang menjadi korban dalam Operasi Trisula 1968. Kami berharap mereka bisa hidup sejahtera, damai dan tanpa kepahitan hati terhadap masa lalu.***

Fatiroh

Februari 6, 2008 oleh cbodho

Fatiroh (18) gadis sebuah dusun jauh di pelosok Pekalongan,Jawa Tengah. Ia merantau ke Jakarta melalui penyalur Pembantu Rumah Tangga (PRT) di daerah Kemang,Jakarta Selatan. Bekalnya saat itu hanya sebuah tas kumal, sehelai kemeja dan celana pendek serta uang Rp 5000. Tidak ada odol, sikat gigi apalagi handuk. Beberapa minggu ia menunggu apakah ada orang yang mau mempekerjakan dia. Saat kami menemukannya di tempat penampungan, tubuhnya amat kurus terbungkus kaus kumal dan bau. Entah sudah berapa lama ia tidak sikat gigi dan mandi dengan sabun.

Ia amat tercengang dengan Jakarta, juga amat ketakutan. Seumur hidupnya ia baru dua kali naik mobil. Pertama saat ia naik mobil agen PRT, kedua naik mobil bersama kami. Setahun bersamanya mirip kisah film ‘crocodile dundee’. Tiroh tercengang setiap hari. Berjam-jam dengan mulut terbuka ia habiskan untuk mengamati alat-alat rumah tangga (kompor gas, mesin cuci, kunci pintu, remote TV, setrika, mixer dan sebagainya). Pernah kami dapati ia sedang meneliti anak kunci. Berulangkali ia membuka dan menutup pintu dengan anak kunci itu. Amat gembira ketika berhasil mengunci dan membuka pintu dengan baik.

Lain waktu ia amat panik ketika harus naik eskalator. I a juga terperangah, tidak habis pikir tentang kotak ajaib ‘lift’. Impiannya ke Jakarta hanyalah melihat ‘emas Soekarno yang besar’ (Monas),— namun ternyata Jakarta jauh lebih dahsyat dari impiannya.

Di kampungnya sudah ada listrik, tapi amat terbatas. Mereka gunakan untuk sebuah lampu kecil 5 watt di malam hari. Sudah ada TV, tapi hanya satu, milik orang terkaya di kampungnya. Hampir semua perempuan kampungnya belum pernah meninggalkan kampungnya. Malu-malu ia bercerita bagaimana mereka selalu lari ketakutan bersembunyi dalam rumah bila ada pesawat terbang melintas agak rendah di atas kampung mereka.

Setahun di Jakarta amat mengubah penampilan Fatiroh. Karena hobby-nya makan maka tubuhnya jadi gemuk dan pipinya tembam berisi. Ia menghabiskan banyak waktu untuk sikat gigi, mandi dan keramas dengan sampo wangi. Ia mulai punya banyak baju dan mulai menjaga kebersihan dan kecantikan. Dari pergaulan dengan pembantu rumah tangga lain, ia mulai mengenal aneka krim kecantikan.

Mengubah pola pikirnya tidak mudah. Ia amat malas dan terbiasa bersantai. Sulit sekali membujuknya untuk mau belajar membaca, menulis atau berhitung. Akhirnya, kami memaksanya belajar dengan memanggil seorang guru les baginya.
Melek huruf dan bisa berhitung membuatnya luar biasa gembira. Mungkin ia adalah gadis terpintar di kampungnya. Namun pilihan untuk masa depannya amat sederhana (tidak sesuai dengan harapan kami). Ia ingin segera kawin dan punya banyak anak. Dengan uang kumpulan gajinya ia membeli banyak baju ketat ala ABG Jakarta. Juga lipstik, bedak, parfum dan asesoris seperti yang ia lihat di iklan televisi.

 Ia kembali ke desanya dengan potongan rambut model terbaru, celana jins dan kaus mini ketat. Entah jadi apa Fatiroh sekarang. Sepertinya waktu setahun amat kurang untuk mendidik seorang perempuan belia melawan lingkaran kemiskinan dan kebodohan.

Kawan-kawan, doakan para pembantu rumah tangga atau buruh, terutama yang bekerja pada kita atau pada orangtua kita. Bukan kebetulan mereka hadir dalam lingkar kasih kita. Mereka hadir untuk kita kasihi, sama seperti kita mengasihi diri kita sendiri.***

Hartini

Februari 6, 2008 oleh cbodho

Hartini, asal Dusun Nyawangan, Tulungagung. Ia pernah merantau ke Banten dan Jakarta sebagai pembantu rumah tangga. Beruntung bapaknya menyekolahkannya sampai lulus SD dan mengijinkannya untuk bekerja sampai usia 19 tahun. Kakak perempuannya tidak pernah diijinkan merantau dan dalam usia muda telah dipaksa untuk menikah. Bapaknya mencambuki kakak perempuannya kala dulu awalnya menolak dipaksa menikah.

Saat merantau di Banten, Hartini sempat bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Sayangnya perlakuan yang diterima kurang mengenakkan. Ia digaji amat rendah dengan tuntutan kerja tinggi. Berulangkali dituduh mencuri menyebabkan ia memilih mundur dari pekerjaan itu. Ia lalu ditampung oleh Pak Dani, seorang pembersih sampah.

Nasibnya membaik saat ia menjadi pengasuh bayi di Jakarta. Ia mendapat upah sesuai UMR, mendapat les bahasa Inggris dan piano. Tidak lama karirnya meningkat menjadi pegawai administrasi sebuah yayasan sosial. Namun di usianya yang ke 19 bapaknya menyuruhnya pulang ke dusun dan menikah. Ia tidak berani melawan bapaknya. Ia dinikahkan dengan seorang buruh dan segera punya satu anak perempuan.

Sampai saat ini Hartini harus tinggal di dusun menjaga anaknya sambil menunggui toko kelontong kecil. “Cita-citaku jadi baby sitter di Surabaya”, begitu ujarnya setengah melamun.

Ia jauh lebih beruntung dari kebanyakan orang muda di kampungnya. Hampir semua perempuan desa tidak lulus SD. Mereka harus kawin di usia amat muda dan punya banyak anak. Karena kemiskinan, tidak lama setelah bayi mereka lepas susuan mereka biasa merantau lagi ke Surabaya atau Jakarta menjadi pembantu rumah tangga. Anak mereka dititipkan pada kakek neneknya.

Mohon ingat mereka dalam doa..