Warih (25) awalnya tinggal di sebuah dusun di puncak sebuah bukit yang amat sejuk dan hijau di Jawa Timur. Dusunnya yang miskin namun tentram selalu mengayomi hidupnya yang sederhana. Setiap hari Warih hanya duduk-duduk, bernyanyi dan bermain gitar.
Warih adalah anak tunggal. Mboknya amat mencintai dan memanjakannya. Walau mereka amat miskin namun Mboknya selalu mampu menghidangkan nasi hangat dengan sayuran sedap khusus bagi Warih. Tubuh Warih terlihat gemuk, kulitnya halus dan wajahnya lembut berseri seperti bayi. Ia semakin tampak berseri saat ia bermain gitar di ibadah Minggu di gerejanya.
Tahun 2001 Warih ingin ke Jakarta. Ia ingin punya henpon seperti kawan-kawannya yang merantau ke Jakarta. Warih meninggalkan dusunnya diiringi air mata si Mbok. Ia merantau ke Jakarta bersama sepupunya dan menjadi office boy di kantor saya. Kebiasaannya untuk selalu duduk-duduk, bernyanyi dan bermain gitar tetap melekat. Akibatnya banyak pekerjaannya terlantar. Sepupunya yang diam-diam membereskan semua pekerjaannya. Teman-teman kerjanya jengkel mengomel: “Mungkin ada lem di kursinya”. Namun ia bisa berubah amat gesit bila sekretaris kantor yang ditaksirnya minta tolong diantar pulang. Sepertinya mengantar sang sekretaris adalah aktifitas paling penting dalam hidupnya.
Selain bernyanyi dan bermain gitar, Warih suka mendengar orang berdiskusi. Ia perlahan mulai paham tentang hak asasi manusia. Topik diskusi rutinnya adalah strategi penghapusan diskriminasi rasial. Biasanya ia hanya menjadi pendengar. Ia tidak banyak bicara, lebih banyak senyum-senyum dan duduk-duduk.
Suatu siang Warih bersama seorang kawannya naik motor. Di perjalanan di daerahTebet sebuah mobil menyerempet motor mereka. Mereka berdua jatuh terpental dari motor. Pengendara mobil turun, ternyata seorang lelaki Tionghoa. Lelaki itu tergopoh-gopoh dengan wajah pucat meminta maaf.
Warih yang biasanya senyum-senyum, lembut dan tidak banyak bicara saat itu tiba-tiba berubah. Warih menjadi segarang macan terluka. Dengan kasar ia menuding-nuding dan membentak-bentak pengendara mobil itu. Kawannya mencoba menenangkan, mengingatkan bahwa kejadian itu kecelakaan, tidak disengaja dan mereka sama sekali tidak terluka. Motor pun tidak rusak. Sambil bersungut-sungut akhirnya Warih melepaskan si pengendara mobil itu pergi. Tapi kemarahannya pada kawannya belum reda sampai beberapa hari. “Kita hampir jadi kaya dari Cino itu, kenapa kamu menghalangi?” begitu ucapnya gusar berulangkali.
Warih sekarang bekerja di Sleman, menjadi penjaga sebuah rumah kosong sitaan bank. Setiap hari ia tetap duduk-duduk bernyanyi dan bermain gitar. Penampilannya masih selembut dulu. Entah apakah kelembutan itu tetap ada bila “ada kesempatan menjadi kaya”.***